Setelah Wang Lin mencapai tahap langkah kedua dalam jalur kultivasi, ia memutuskan untuk kembali ke Tanah Roh Iblis, tempat Suku Pemurnian Jiwa yang ia tinggalkan ratusan tahun lalu kini telah berkembang menjadi sekte yang sangat kuat. Shisan sendiri telah meningkatkan kultivasinya hingga mencapai ranah Yin Ilusi.
Seperti yang diketahui, ketika Wang Lin meninggalkan Tanah Roh Iblis menuju wilayah bintang All Heaven, semuanya terjadi dengan sangat terburu-buru. Sebelum pergi, ia menyerahkan Suku Pemurnian Jiwa kepada Ouyang Hua dan Shisan, sekaligus meninggalkan beberapa teknik kultivasi. Saat itu Wang Lin mengatakan bahwa ia tidak tahu kapan mereka akan bertemu kembali.
Shisan mengira dirinya mungkin tidak akan pernah melihat gurunya lagi sepanjang hidupnya. Namun, kepergian Wang Lin ternyata berlangsung selama ratusan tahun. Selama masa itu, reputasi Wang Lin berkembang pesat di wilayah bintang All Heaven. Kultivasinya telah memasuki langkah kedua jalur kultivasi, mencapai ranah Nirvana Scryer, bahkan memperoleh status sebagai Dewa Petir resmi di wilayah bintang All Heaven.
Ketika perang besar antara wilayah bintang All Heaven dan wilayah bintang Aliansi pecah, Wang Lin menjadi bagian dari pasukan penyerang. Ia kembali memasuki wilayah bintang Aliansi, menemukan Si Tunan, lalu bersama-sama memasuki Tanah Roh Iblis untuk menjelajahi gua peninggalan Kaisar Abadi Qing Lin.
Saat itu, di luar Kota Iblis Api, jutaan anggota Suku Pemurnian Jiwa telah mengepung kota tersebut. Para anggota suku menggunakan bendera jiwa untuk menciptakan kabut hitam yang menutupi langit. Ouyang Hua memberikan ultimatum kepada dua jenderal iblis penjaga kota agar menyerah.
Teriakan jutaan anggota suku mengguncang seluruh kota hingga menyebabkan banyak prajurit iblis tewas dan terluka. Salah satu jenderal iblis menyerang patung leluhur yang dipuja suku dengan tekad mati-matian, tetapi ia dibunuh hanya dengan satu pukulan oleh Shisan yang berjaga di samping patung tersebut.
Ouyang Hua segera memerintahkan serangan total. Di bawah serangan entitas jiwa yang memenuhi langit, jenderal iblis lainnya akhirnya menyerah. Sejak saat itu, wilayah Iblis Api jatuh ke tangan Suku Pemurnian Jiwa dan dijadikan ibu kota baru mereka.
Dengan kemenangan ini, Suku Pemurnian Jiwa langsung diakui sebagai salah satu dari sembilan kekuatan besar Tanah Roh Iblis. Patung batu hitam yang mereka sembah juga berubah menjadi simbol spiritual seluruh suku.
Tepat ketika Shisan hendak memasuki ibu kota yang baru direbut, tubuhnya tiba-tiba gemetar hebat. Perasaan yang selama ratusan tahun tidak pernah muncul kembali memenuhi dirinya. Ia menatap langit dan berteriak dengan suara gemetar.
“Leluhur telah kembali!”
Hampir bersamaan, langit seluruh Tanah Roh Iblis berubah drastis. Pusaran raksasa muncul seolah ada kekuatan tak terbayangkan yang sedang merobek langit dan bumi. Fenomena ini membuat seluruh penduduk asli menatap langit dengan rasa takut.
Penyebab dari fenomena tersebut adalah kembalinya Wang Lin.
Melihat dunia yang pernah dikenalnya, hati Wang Lin dipenuhi emosi. Tempat pertama yang ingin ia kunjungi bukanlah wilayah rahasia penuh peluang abadi, melainkan Suku Pemurnian Jiwa.
Suku ini dibangun Wang Lin dengan tangannya sendiri demi memenuhi janji kepada gurunya, Du Tian. Setelah ratusan tahun berlalu, ia tidak tahu apakah suku itu masih ada. Ia juga sangat merindukan Shisan, murid yang selalu setia mengikutinya.
Sepanjang hidupnya, Wang Lin telah bertemu banyak orang, tetapi tidak pernah ada yang sesetia Shisan.
Saat memikirkan Shisan, nama lain muncul dalam benaknya: Hu Pao.
Kesetiaan Shisan menjadi kontras yang sangat tajam dibanding pengkhianatan Hu Pao di masa depan, sesuatu yang terus diingat Wang Lin selama bertahun-tahun.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu dirinya memasuki Kota Iblis Kuno tanpa rasa takut demi menyelamatkan mereka berdua meskipun harus menghadapi ratusan ribu pasukan. Bahkan jika saat itu ia mengetahui Hu Pao akan berkhianat, Wang Lin sadar bahwa ia tetap akan membuat pilihan yang sama.
Wang Lin menghela napas panjang lalu mengeluarkan sebuah piringan batu dari tas penyimpanannya. Piringan itu adalah kunci penting untuk memasuki Istana Abadi keempat.
Ia menyerahkannya kepada Si Tunan sambil menjelaskan seluruh metode untuk melewati berbagai batasan tanpa menyembunyikan apa pun. Si Tunan yang telah mengenal Wang Lin selama bertahun-tahun langsung memahami bahwa Wang Lin ingin bertemu teman-teman lamanya, sehingga ia tidak banyak bertanya.
Setelah semuanya diatur, Wang Lin menyebarkan kesadaran ilahinya.
Dengan kultivasi saat ini, kesadarannya dengan mudah menutupi seluruh Tanah Roh Iblis.
Ketika kesadaran ilahi Wang Lin menyebar, patung batu hitam di wilayah Iblis Api tiba-tiba memancarkan cahaya hitam pekat yang membawa aura dingin tanpa batas. Kekuatan misterius melonjak ke langit lalu menyatu dengan kesadaran ilahi Wang Lin.
Jutaan anggota suku terpaku.
Seseorang bersujud.
Lalu hampir seluruh anggota suku ikut bersujud sambil berteriak bahwa leluhur mereka telah menunjukkan kekuatannya.
Ouyang Hua menatap pemandangan tersebut dengan tidak percaya dan memandang ke arah Shisan.
Shisan masih gemetar.
Ia dapat merasakan aura yang sangat dikenalnya.
Leluhur yang mereka puja selama ratusan tahun benar-benar telah kembali.
Di sisi lain, Wang Lin terkejut melihat perkembangan Suku Pemurnian Jiwa. Ia tidak menyangka suku kecil yang dulu ia bangun kini telah berkembang jutaan kali lipat.
Namun yang lebih mengejutkannya adalah kekuatan misterius yang menyatu dengan kesadaran ilahinya.
Selama lebih dari seribu tahun berkultivasi, ia belum pernah menemukan kekuatan seperti itu.
Saat kekuatan tersebut menyatu, berbagai gambaran membanjiri pikirannya.
Ia melihat jutaan anggota suku yang selama ratusan tahun terus bersujud di depan patung batu hitam miliknya.
Fanatisme mereka begitu besar hingga rela menyerahkan nyawa tanpa ragu.
Bahkan Wang Lin yang telah mengalami begitu banyak badai kehidupan pun merasa tersentuh.
Ia akhirnya menyadari bahwa kekuatan itu adalah kekuatan pemujaan yang terkumpul dari jutaan orang selama ratusan tahun.
Wang Lin melangkah maju.
Dalam sekejap, ia sudah berdiri di atas ibu kota Iblis Api.
Dari atas sana, ia melihat jutaan orang sedang bersujud.
Saat sosok Wang Lin muncul, seluruh jiwa di dalam bendera-bendera jiwa mengeluarkan suara melengking seolah menyambut tuan sejati mereka.
Ouyang Hua segera bersujud.
Semua orang yang melihat wajah Wang Lin langsung mengenali bahwa wajah tersebut sama persis dengan patung yang selama ini mereka sembah.
Gelombang suara jutaan orang mengguncang bumi.
Wang Lin memandang semuanya dengan tenang.
“Katakan pada semua orang… aku telah kembali.”
Kalimat sederhana itu langsung memicu sorakan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Atas perintah Wang Lin, wilayah Iblis Api diubah namanya menjadi Sekte Pemurnian Jiwa.
Dengan jutaan murid dan jumlah jiwa yang tak terhitung di dalam bendera-bendera jiwa mereka, sekte ini menjadi kekuatan yang bahkan negara kultivasi tingkat tujuh tidak bisa meremehkannya.
Wang Lin bergumam pelan.
Akhirnya, ia telah memenuhi janji kepada gurunya, Du Tian.
Ia memberikan teknik lengkap Pemurnian Jiwa kepada seluruh murid, meskipun tetap meninggalkan celah agar dirinya dapat mengambil semua jiwa milik murid kapan pun diperlukan.
Ia juga memberikan teknik Sembilan Putaran Siklus Abadi sebagai teknik rahasia pertama sekte.
Selain itu, Wang Lin memasang berbagai batasan di seluruh wilayah sekte dan mengeluarkan banyak teknik sihir dari paviliun koleksi yang tersegel di tubuhnya.
Empat set teknik sihir pengendalian jiwa tingkat rendah diberikan kepada murid biasa.
Ouyang Hua memperoleh teknik lengkap Pemurnian Jiwa Menjadi Dewa.
Sedangkan untuk Shisan, Wang Lin memberikan perlakuan yang jauh lebih istimewa.
Ia mengambil darah bangsawan raksasa milik leluhur suku raksasa iblis, Lei Ji, lalu menggunakannya untuk membasuh tubuh Shisan.
Setelah itu, Wang Lin memberikan setetes darah Dewa Kuno miliknya sendiri ke dahi Shisan.
Meski prosesnya sangat menyakitkan, Shisan berhasil melewatinya.
Kini fisiknya cukup kuat untuk bertarung melawan kultivator Ascendant tahap akhir dan memiliki potensi pertumbuhan tanpa batas.
Masih merasa belum cukup, Wang Lin bahkan melelehkan banyak harta karun untuk menyatu dengan tubuh Shisan tanpa melukai jiwanya.
Shisan kini setara dengan penjaga abadi, tetapi tetap mempertahankan kesadaran penuhnya.
Bagi Wang Lin, Shisan adalah murid pertamanya.
Ia kemudian memberikan teknik sihir tingkat menengah Penghancur Abadi yang terbagi menjadi tiga langkah kepada Shisan.
Setelah mengatur semuanya, Wang Lin memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan internal sekte dan membiarkannya berkembang secara alami.
Ia juga membangun gudang harta karun yang dipenuhi pedang terbang dan berbagai artefak yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun untuk diberikan kepada murid yang berprestasi.
Setelah menyelesaikan semua itu, Wang Lin akhirnya merasa satu beban besar dalam hatinya telah hilang.

Tidak ada komentar
Posting Komentar