Pertarungan besar antara Wang Lin dan Utusan Kuil Surgawi Guntur mencapai puncak klimaks yang mendebarkan. Semuanya bermula ketika utusan kuil tersebut mencoba membaca rahasia tubuh Wang Ping menggunakan teknik matanya. Namun, semakin dalam ia menyelidiki, semakin ia terkejut menemukan dua aliran energi pedang yang mengerikan di dalam tubuh Wang Ping. Penemuan itu membuatnya ketakutan luar biasa, karena ia menyadari bahwa Wang Ping bukanlah manusia biasa.

Tubuh Wang Ping ternyata dibentuk sepenuhnya dari energi pedang, sementara jiwanya dilindungi oleh lapisan energi pedang lain yang bahkan membuat Utusan Kuil Surgawi Guntur tidak berani bertindak gegabah. Karena takut akan kekuatan Wang Lin, utusan tersebut langsung mengeluarkan mantra energi asalnya. Langit dan bumi berubah menjadi tungku raksasa yang dipenuhi petir dan api dahsyat, seolah-olah seluruh dunia berubah menjadi neraka petir untuk memurnikan Wang Lin.


Wang Lin tidak tinggal diam. Ia menggunakan tebasan surgawi untuk menghancurkan hukum dunia yang membentuk tungku tersebut. Di tengah pertarungan sengit, boneka penjaga langit dan binatang petir milik Wang Lin ikut menyerang. Wang Lin kemudian membuka segel ketiga binatang petir. Tubuh monster itu membesar secara dramatis, petir peraknya berubah menjadi petir hitam penghancur, dan auranya menjadi sangat mengerikan hingga binatang petir milik kuil surgawi langsung tunduk ketakutan.

Gabungan serangan binatang petir, boneka penjaga langit, dan tebasan surgawi akhirnya berhasil menghancurkan tungku raksasa milik utusan tersebut. Utusan Kuil Surgawi Guntur terluka parah dan mencoba melarikan diri. Namun, di tengah kekacauan itu, rahasia terbesar akhirnya terungkap.

Wang Ping bertanya langsung kepada Wang Lin dengan suara bergetar: “Apakah benar aku sudah mati sejak lama?” Dengan sedih, Wang Lin mengakui kenyataan pahit tersebut. Ternyata Wang Ping hanyalah pecahan jiwa yang dipenuhi kebencian dan tidak bisa bereinkarnasi. Tubuhnya selama ini hanya hasil kreasi energi pedang dan mantra Wang Lin. Itulah sebabnya Wang Ping tidak bisa berkultivasi, tidak bisa memiliki keturunan, dan tidak pernah sakit seumur hidupnya.

Meski mengetahui dirinya bukan manusia sungguhan, Wang Ping tetap tersenyum lembut. Ia berterima kasih kepada Wang Lin karena telah menjadi ayah terbaik baginya. Dengan suara penuh kasih, ia juga mengucapkan perpisahan menyentuh kepada Chingyi, wanita yang dicintainya. “Jika ada kehidupan berikutnya, aku akan kembali mencarimu,” katanya.

Tak lama kemudian, tubuh Wang Ping berubah menjadi cahaya emas dan kembali menjadi energi pedang. Yang tersisa hanyalah bola cahaya putih kecil — jiwa Wang Ping yang telah dimurnikan dari seluruh kebencian. Wang Lin menangis sambil menggenggam bola cahaya itu, lalu memasukkannya ke dalam manik penentang surga agar kelak Wang Ping bisa mendapatkan kesempatan hidup baru.

Setelah perpisahan yang menyedihkan itu, Wang Lin kembali mengejar Utusan Kuil Surgawi Guntur bersama boneka penjaga langit dan binatang petirnya. Utusan tersebut terus ditekan hingga terpojok. Wang Lin mengeluarkan bendera jiwa satu miliar jiwa dan memanggil tiga jiwa utama mengerikan untuk mengepungnya.

Karena putus asa, utusan tersebut akhirnya menyerah dan bersedia tunduk demi menyelamatkan nyawanya. Namun Wang Lin tidak sepenuhnya mempercayainya. Ia membawa utusan tersebut ke sebuah planet tandus, menanam berbagai pembatas di tubuh dan jiwanya. Saat utusan lengah, Wang Lin tiba-tiba menggunakan cambuk jiwa dan mencambuknya tujuh kali berturut-turut hingga jiwa asalnya terlempar keluar. Dengan bantuan boneka penjaga langit, binatang petir, formasi pedang tujuh bintang, dan berbagai pembatas, Wang Lin berhasil menjebak jiwa asal utusan tersebut sepenuhnya.


Episode ini menjadi salah satu bagian paling emosional sekaligus brutal dalam perjalanan Wang Lin. Bukan hanya pertarungan dahsyat melawan Utusan Kuil Surgawi Guntur, tetapi juga momen perpisahan tragis antara Wang Lin dan Wang Ping — anak yang telah hidup puluhan tahun bersamanya, padahal sebenarnya telah mati sejak awal.